Pages

Sunday, December 5, 2010

Down to the Old Rail Alley (Tersesat)


rel www.west-sumatra.com
Waktu itu setelah hujan deras. Kuturuni jalan yang landai hingga ke pertigaan. Air menggenang setinggi lututku. Basah, badan dan barang bawaanku. Kalau air lebih tinggi lagi, mungkin aku akan berenang, pikirku. Tapi tidak dengan tas berat berisi pakaian, air, paspor, dan uang ini. Aku sadar sedang tersesat di negeri orang!
Di pertigaan ini jalan yang kulalui mencabang. Aku tidak sabar untuk memilih, jalan mana yang akan kulalui. Aku bingung. Sedangkan air mengalir ke jalan yang lebih rendah. Seandainya aku bisa mengalir saja seperti air genangan itu.
Sayup kudengar suara wanita. Wanita-wanita. Tidak, wanita-wanita dan perempuan. Kusambangi mereka. Kaki-kaki mereka basah, tangan memegang erat sepatu dan bungkusan makanan dan kitab. Bukan Alkitab atau Alquran. Seperti pulang dari pengajian atau arisan. Mata mereka memandangiku. Hangat. Mereka tahu aku tersesat.
Perempuan itu tertawa renyah, sambil mendengarkan ibunya memberi saran untukku. Katanya, aku bisa ikut mereka, untuk kembali menaiki jalan sebelum aku sampai di pertigaan itu. Aku setuju saja. “Kamu harus mencari tumpangan kereta”, tambahnya. Aku semakin setuju saja. Aku ikuti mereka berjalan naik, kembali melalui jalan sebelum pertigaan berair itu.
Jalan mulai menanjak dan menyempit, kadang tertutup seperti terowongan. Di sisi kiri jalan ada rel, kecil dan mulai berkarat. Bukan rel untuk kereta api. Mungkin untuk membawa hasil pertanian. Beberapa kali kami melalui rongsokan di tengah jalan. Rongsokan yang menyerupai permainan anak-anak. Sekali kujumpai ferris wheel, lalu kepala kuda untuk carousel. Menarik. Coba aku datang sepuluh, dua puluh tahun yang lalu...
savanna
Hampir satu jam kami berjalan. Mereka jalan cepat sekali. Hingga akhirnya kami mendekati ujung jalan. Terhubung dengan savanna, luas. Seorang wanita menunjuk pada sebuah trolley kecil beroda empat. Merah warnanya. Mereka tersenyum lega. Aku beruntung, katanya, ada satu kereta untukku. Ukurannya pas untuk tubuhku tapi tidak untuk kedua kakiku. Aku akan menuruni jalan yang sama lagi. Dengan kereta mereka. Atau lebih tepatnya, dengan trolley supermarket!
Tepat sebelum aku berpamitan dengan kelompok wanita itu, ada seorang lelaki muda. Menggantungkan kamera di dadanya. Ransel di punggungnya. Dan dua trolley kecil dipegang oleh kedua tangannya. Jelas seorang luar. “Dia seorang Perancis,” bisik wanita di sampingku, “kau bisa ikut dengannya”. Aku ragu, tapi aku setuju. Sedikit basa-basi dalam bahasa Inggris seadanya, kami sepakat untuk menuruni jalan bersama. Dia bilang, dia pernah menuruni jalan ini. Aku kemudian berpamitan dengan wanita-wanita itu, berterima-kasih pada mereka. Dan aku menuruni jalan ini dengan lelaki Perancis itu.
Aku heran. Ternyata roda-roda kereta kami dapat diletakkan dengan tepat di atas rel yang berkarat itu. Lelaki Perancis itu hanya tersenyum. Sepanjang jalan, kami melesakkan diri ke dalam kereta masing-masing. Kereta lelaki itu di depan, diikuti kereta barangnya yang diikatkan di tangkai keretanya. Lalu keretaku sebagai ekornya, terpisah. Sewaktu-waktu aku minta berhenti untuk membenarkan posisi tubuhku yang kesulitan membawa tas. Keretaku hanya satu.
Di jalan kami diam. Hanya berbicara ketika ada sesuatu menghalangi laju kereta kami. Sampai di tengah jalan dia bilang: “Kita berhenti!”. Dia membangkitkan diriku dari keretaku dengan paksa. Lalu menarik keretaku ke keretanya, menalinya dengan tambang kecil. Akhirnya tiga kereta itu menjadi satu rangkaian. Dia mengambil semua barang, termasuk tasku, dimasukkan ke kereta yang paling belakang, diikatnya erat. Dia menyuruhku duduk di kereta di tengah. Kemudian mengambil kameranya dan mengambil gambarku terperosok dalam kereta itu. “Dan aku seperti membawa bayi sambil berbelanja di mall!” katanya, kami tertawa bersama-sama.
biksu tong pangeran229.wordpress.com
Masih di pertengahan jalan. Di depan kami, jalan membentuk terowongan, gelap dan panjang. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak, minum dan makan bekal kami seadanya. Kami duduk-duduk di samping kuda-kuda sisa carousel. Dinding yang kami sandari licin dan berlumut, dinding batu kali. Lelaki Perancis itu sibuk memotret sana-sini. Sambil tertawa-tiwi sendiri. Aku senang. Kami senang. Dari teworongan terdengar suara roda-roda bersinggungan dengan rel. Lamat-lamat lalu mendekat. Lalu muncul kereta yang lebih besar dari punya kami, berisi potongan-potongan kayu bakar. Seorang lelaki berkepala botak dibelakangnya, mendorong kereta pelan-pelan. Bercahayakan obor kayu bakar. Seorang biksu.
Biksu itu berhenti di depan kami. Diam lalu menunjuk ke botol air dalam kereta kami. Lelaki Perancis yang mengerti kebiasaan lokal segera mengayunkan botol air itu kepada biksu. Diminumnya air putih itu. Seteguk demi seteguk. Bersendawa dan melanjutkan minumnya. Biksu itu kini terlihat segar. Lebih baik dari sebelumnya. Dia mulai mengajak kami bercakap. Kami hanya mengernyit dahi, kami  tak tahu bahasa lokal. Lalu kami tertawa bersama. Biksu itu segera bersiap untuk melanjutkan perjalanannya. Diberikannya dua potong kayu bakar pada kami. Dinyalakannya. Lalu ditunjuknya terowongan dengan obor itu. Kami mengakhiri perjumpaan sang biksu dengan mengambil gambarnya, lengkap dengan kayu-kayu bakar di atas trolley-supermarketnya. Kami juga meneruskan perjalanan kami.
Kereta kami yang serangkaian mulai berjalan, lebih cepat. Jalan mencuram. Tak ada pegangan selain tangkai kereta belanjaan kami. Rem manual yang sedari tadi kami operasikan dengan menyatukan sol sepatu dengan tanah pun tak berhasil melambatkan laju. Kami berteriak sekencang-kencangnya. Berharap ada yang mendengar dan mengeluarkan kami dari terowongan gelap ini. Setelah perutku terasa mual dan aku tak bisa menahan lagi, terdengar suara gemericik air. Pertigaan itu! Yah, kami keluar dari terowongan, dan berlanjut ke jalan melandai, yang menuju pada jalan tergenang air. Seketika kereta kami tergenang hingga ke tengah-tengah. Semua badan kami kuyup. Juga barang-barang kami.
kapal www.tnial.mil.id
Kami mencoba memberdirikan badan, di dalam kereta yang masih melaju. Lelaki Perancis itu tiba-tiba berteriak: “Kiri atau kanan!”. Aku tak tahu. Aku tak tahu dan hanya menutup mata. Air yang mengalir itu membalikkan kereta kami beserta isinya. Aku tak tahu arah mana yang telah kami tempuh. Air telah membawa kami turun. Mendamparkan kereta-kereta kami di depan sebuah kapal besar. Kapal berbendera merah-putih di haluannya. Dan aku sadar, aku tak lagi tersesat.
“Kadang untuk bisa melangkah lebih jauh, kita perlu tersesat, berjalan mundur, mengenal orang-orang baru dan mempelajari hal-hal baru.”
Jogja, 05/11/10

Friday, December 3, 2010

Pendongeng Kisah Residensi HotWave 1 di Rumah Seni Cemeti

Lotte Geeven (Belanda), Restu Ratnaningtyas (Indonesia) dan Tim Woodward (Australia) adalah tiga perupa muda yang menjalani program masa tinggal (residency) HotWave #1, 1 September sampai dengan 30 November 2010, di Rumah Seni Cemeti Yogyakarta. Selama tiga bulan waktu residensi tersebut, mereka bekerja, berdiskusi dan mengembangkan ide-ide segar yang mereka wujudkan ke dalam karya seni rupa kontemporer mereka. Pada bulan pertama mereka mulai membuka diri dan menjajagi dunia kesenian Jogja dengan  mendatangi secara langsung kantong-kantong kerajinan dan sentra kebudayaan, mereka juga diajak untuk mengenal lebih dalam dengan bertemu seniman dan komunitas lokal serta melihat berbagai event kesenian dan kebudayaan di Jogja.

Pada bulan kedua, fokus mereka diarahkan untuk mengadakan sebuah aktivitas kesenian yang melibatkan publik sebagai sebuah edukasi kesenian kepada masyarakat. Sebuah presentasi tentang kiat-kiat menjajal residensi dibawakan oleh Lotte Geeven di Taman Budaya Yogyakarta. Dalam Presentasi tersebut Lotte mengajak dan memberikan arahan kepada seniman-kurator muda untuk mengikuti jejaknya dalam mengembangkan proses berkarya, yakni mengikuti program residensi. Tim Woodward, memilih untuk membuat sebuah pameran dengan konsep ”Galeri Seribu Rupiah”. Tim mengundang seniman dan anak muda untuk membuat patung dengan bahan dasar makanan. Patung-patung tersebut lantas diarak ke lapangan parkir supermarket Super Indo untuk kemudian dipamerkan di sana. Dalam workshop ”Super Indo Sculpture Park” tersebut, para peserta dapat memamerkan hasil karya mereka hanya dengan membayarkan uang Rp 1.000 sebagai ganti sewa ruang pameran. Sedangkan Restu Ratnaningtyas yang dalam residensi menemukan bahwa terjadi banyak translasi dalam komunikasi mereka, membuat sebuah workshop bertajuk ”Translate and Drawing Party”, membiarkan para peserta bermain dengan translasi dari kata ke pikiran, pikiran ke gambar.

Tiba waktunya untuk mereka menyajikan sebuah pameran sekaligus presentasi dari karya-karya mereka dalam mengikuti residensi ini. Lotte yang setiap paginya menyusuri jalanan dan petak-petak tanah di kota ini, mulai merasa menjadi bagian dari kota yang dulunya hanya berfungsi sebagai ornamen tempat tinggal. Lotte bagaikan seorang tukang cerita ulung yang mengkoleksi detail-detail kota dan menyimpannya kemudian pada akhirnya mengolah dan membeberkan semua detail dalam pola dan peta yang indah seperti dongeng. Dalam karyanya, Lotte mengunakan bunga segar, daun-daun kering, bola plastik, foto, bahkan styrofoam yang dipenuhi dengan ratusan anak panah kecil. Dalam pameran karyanya ini, Lotte ingin membangun sebuah domain mental abstrak yang membuat penonton kewalahan, menjadi tidak stabil bahkan terperangah seperti dirinya sendiri:
‘This city doesn’t exist, only in the mind, and only in form language. This is the place where we’ll meet... There are many ways of storytelling; I am researching storytelling with only these background details: the information in between. The way a whole city can unfold from a single detail and a landscape can grow around a single scent.... In the final stage I’m bringing together the coulisses, doing this I carefully try to create a net of landmarks that together tell you the edges and corners of a mystical border area between me and the city. This way I want to build an abstract mental domain where the viewer is left as overwhelmed, instable ore surprised as I was.”
– Lotte Geeven

Berbeda halnya dengan Lotte, Restu bermain laksana pendongeng, yang bercerita tentang kisah kehidupan sehari-hari manusia dari dalam studio residensi cemeti. Dalam karyanya ”The Dining Room Tragedy”, Restu menampilkan figur orang yang berbaring di bawah meja makan dengan berbagai barang dan makanan tergeletak di sampingnya. Instalasi yang terbuat dari cat air di atas kertas yang di tempel di tembok ini menggambarkan sebuah scene kehidupan harian yang dilebih-lebihkan oleh Restu. Bahkan, Restu mengajak pangunjung untuk berinteraksi dengan mengirimkan skenario terburuk yang mereka pikirkan ketika melihat karya tersebut. Bagi Restu, sudah banyak sekali tayangan di televisi yang menampilkan adegan kehidupan harian yang hiperbolis, sehingga kali ini  dia bermaksud memberi kesempatan bagi pengunjung untuk membuat skenario hiperbolis mereka sendiri terhadap karyanya. Sebuah scene lain dari kehidupan ditampilkan oleh Restu dengan proyeksi animasi di dalam sebuah kubus putih yang mengambang. Karya yang berjudul ”Seek and Peek” tersebut membuat penonton harus melongok ke dalam kubus dan mengintip seseorang berkepala kelinci sedang tertidur di atas kasur sambil menarik sesuatu dari mulutnya.

Sedangkan dalam proyek presentasi ini, Tim mencoba menampilkan sebuah cerita di balik kopi luwak. Tim yang meneliti hewan luwak dan habitatnya, dari museum biologi ke pasar satwa dan dari perkebunan kopi ke Ebay, membuat sebuah lemari kabinet kaca berbentuk piramida dengan hewan luwak yang telah diawetkan di dalamnya. Karya yang berjudul ”Museum of the Luwak” ini didedikasikan kepada hewan luwak yang telah berjasa membuat cita rasa kopi yang terkenal karena kelezatan dan kemahalannya.  Dalam karya tersebut Tim bekerja sama dengan Museum Biologi untuk menampilkan hewan luwak koleksi museum. Setelah pameran usai, karya tersebut akan disumbangkan kepada Museum Biologi. Di ruangan lain, Tim membawa kotoran luwak dan menyandingkannya dengan botol-botol keramik serta drawing akrilik di atas MDF dalam karya ”Organs and Alchemy”. Tim juga membuat beberapa instalasi video yang mempertunjukkan kehidupan pekerja yang memeras keringat demi keberlanjutan 'alkemi' yang menjadi mata pencaharian utamanya.  Kontradiksi-kontradiksi bahwa Kopi luwak yang lezat dan mahal tersebut sebenarnya berasal dari fermentasi kotoran luwak serta buruh yang bekerja keras demi keberlanjutan kotoran luwak yang menunjang hidupnya, dibawakan oleh Tim dengan menghadirkan langsung pahlawan kopi luwak yang sebenarnya.  Tim seperti sedang melakukan uji pemahaman tentang sistem nilai yang pada akhirnya menjadi sesederhana kepentingan ekonomis semata; hal yang nampak analog dengan perlipatan nilai pada karya-karya fetish senirupa.

Pameran dan presentasi dari Program Residensi HotWave tersebut telah berlangsung di dua tempat, Rumah Seni Cemeti (24 Nov – 1 Des 2010) dan Jogja National Museum, Lantai I, (24-28 Nov 2010). Disamping pameran juga  diadakan Tur Publik pada hari Kamis, 25 November 2010 pukul 16.00 mulai dari Jogja National Museum dan berakhir di Rumah Seni Cemeti. 

*Trims untuk mas Ndit yang telah membantu mengedit :)

Wednesday, March 24, 2010

Investasi Keahlian



The Arrival- by shauntan.net
Belakangan ini saya sedang berpikir tentang uang. Yah, bisa dibilang saya sedang tidak punya uang. Makan ngirit, pemasukan dikit. Walaupun sedang terlilit, saya sendiri heran, kok kegiatan saya banyak ya? Ada belajar bahasa Inggris, berkomunitas, berkawan, bekerja. Yang terakhir sih memang tidak perlu ditanyakan, tapi tiga aktivitas lainnya? Setelah saya telaah lebih lanjut. Ternyata saya punya pemikiran yang lebih untuk mengambil tiga kegiatan penting itu: investasi keahlian!

Beberapa teman mungkin terkaget-kaget ketika melihat saya masih kesana-kemari untuk belajar bahasa Inggris. Loh, bukannya bahasa Inggris saya sudah 'lumayan'?Itu kan hanya perkiraan orang-orang saja. Yang saya butuhkan tidak lumayan, tetapi bagaimana bahasa itu menjadi bagian dari kehidupan saya. Jadi, saya belajar agar bisa terus berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Nah, get the point? Menurut saya, bahasa merupakan investasi yang cukup penting. Apalagi bila bahasa tersebut banyak digunakan oleh orang. Saya sedikit iri ketika ada beberapa teman saya yang menguasai beberapa bahasa. Tentu saja saya iri karena mereka bisa berinteraksi dengan lebih mudah dengan orang lain. Untung saja kebanyakan dari mereka tinggal di Swiss, Perancis, ataupun Belgia, sehingga tidak terlalu sulit memahami bagaimana mereka bisa berbahasa asing yang bermacam ragamnya. Jadi menurut saya, investasi yang saya tanam ketika belajar bahasa Inggris sejak SMP tidak akan hilang, dan bahkan bertambah jika sampai sekarang saya masih menggunakannya.
Lalu, saya juga menghamburkan uang untuk berkomunitas. Yah, sebagai relawan, saya harus mengeluarkan uang pribadi untuk makan dan minum ketika rapat, transportasi, kunjungan ke kota lain, dan lain sebagainya. Walau jumlahnya tidak banyak, jika dikalkulasi mungkin... lebih dari sedikit, kawan! Tapi tetap saja, tenaga dan uang yang saya keluarkan ini tidak lain untuk menambah investasi keahlian dalam isu-isu yang saya dalami. Hasilnya, mungkin tidak sekarang, tapi sedikit banyak investasi itu terlihat ketika dengan PD-nya saya bercas-cis-cus dalam sebuah wawancara pekerjaan, atau ketika saya merasa bisa apabila dimintai tolong untuk berbicara dan menulis tentang sesuatu. Nah, itu baru sekarang. Besok?
Sedangkan tentang berkawan? Ooh ya, saya belakangan suka menghabiskan waktu dengan kawan, baik itu sekedar mengobrol, makan malam, ataupun ngopi sampai pagi. Namun diluar kegiatan iseng itu, banyak sekali hal yang saya dapatkan dari teman saya; berbagai pembicaraan yang tidak penting, diskusi info mutakhir, bahkan ide-ide skripsi dan bisnis yang tiada habisnya. Selain itu, saya juga dapat menjaring teman baru. Tentu saja ketika saya bertemu satu orang, saya akan dapat bertemu dengan satu orang baru, dan seterusnya dan seterusnya. Olala, sungguh ajaib hasil dari investasi yang saya tanam Terang saja saya sangat menyukai kegiatan yang satu ini karena saya tidak mempunyai TV dan berlangganan harian pagi :). Di sini, ada satu investasi keahlian lain yang juga saya anggap penting: keahlian berkawan dan menjaga jaringan.
So, biarpun tidak punya uang, investasi-investasi tersebut akan menjaga saya untuk tetap hidup, teredukasi, dan bisa mencari uang lagi :)